Mengenal Sejarah, Demografi  dan Hubungan Budaya di Makassar

Sumber: https://lifestyle.okezone.com

Menurut tradisi tertulis, ada sejumlah kerajaan kecil di Makassar pada abad keempat belas. Di antara beberapa kerajaan Makassar yang ternama, Gowa merupakan yang paling dominan pada abad keenam belas dan ketujuh belas, yang menjalankan kontrol politik dan ekonomi atas bagian timur kepulauan itu. Struktur politik Gowa sangat hierarkis, dengan raja memimpin dewan dan para pemimpin bawahan, menteri, dan berbagai fungsionaris lainnya.

Hubungan politik dengan kerajaan tetangga, termasuk orang-orang Bugis, diperpanjang melalui perkawinan antar keluarga bangsawan yang berkuasa. Pada 1669 Belanda merebut ibukota Gowa, tetapi pemberontakan berlanjut sampai 1906, ketika pasukan kolonial menaklukkan daerah pedalaman dan membunuh raja Gowa. Di bawah pemerintahan kolonial serta setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan, bangsawan dimasukkan ke dalam hierarki administrasi.

Saat ini banyak bangsawan Makassar, yang masih dianggap oleh penduduk setempat sebagai orang-orang dengan tatanan yang lebih tinggi, menduduki posisi pemerintahan yang menonjol di daerah pedesaan. Dalam perjalanan sejarah, Makassar telah mendirikan koloni di banyak pantai di seluruh Indonesia. Perubahan budaya utama disebabkan oleh penyebaran Islam (yang tiba di semenanjung tahun 1605), serta oleh pertumbuhan kota Ujung Pandang (selama beberapa dekade terakhir abad ini), di mana kehidupan yang berorientasi gaya modern sekarang menjadi dominan.

Demografi

Jumlah penduduk Makassar sekitar 1,8 juta, dengan kepadatan penduduk rata-rata sekitar 245 orang per kilometer persegi (tidak termasuk ibukota provinsi Ujung Pandang). Tingkat peningkatan populasi di daerah pedesaan hari relatif rendah, akibat dari meningkatnya migrasi ke kota-kota serta dari proyek pengendalian kelahiran nasional. Kelompok etnis Makassar ada sekitar 72 persen dari populasi Sulawesi Selatan, sisanya terdiri dari kelompok etnis dari seluruh Indonesia.

Afiliasi Linguistik

Makassar termasuk dalam Kelompok Bahasa Indonesia Barat dari Keluarga Bahasa Austronesia, dan paling dekat hubungannya dengan Bugis, Mandar, dan beberapa bahasa Toraja. Bahasa ini dibagi menjadi lima dialek yang saling dipahami (Lakiung, Bantaeng, Turatea, Selayar, dan Konjo, yang terakhir diklasifikasikan sebagai bahasa yang terpisah oleh beberapa ahli bahasa), yang “Standar Makassar,” dialek Lakiung, yang diucapkan di wilayah barat , paling banyak digunakan (74 persen).

Ada dua tingkat bicara, yang lebih tinggi di antaranya lebih kompleks dalam hal morfologi dan leksikon. Saat ini, hanya sedikit orang yang mampu menggunakan varietas tinggi. Makasar memiliki naskah suku kata yang terdiri dari sembilan belas karakter dan empat tanda vokal tambahan, yang diciptakan pada abad ke-16 berdasarkan tulisan Sanskrit dan masih digunakan, terutama oleh orang yang lebih tua.

Makassar merupakan bagian penting dari sejarah besar NKRI sejak dahulu kala hingga kini. Memahami sejarah Makassar bisa menambah pengetahuan kita akan keragaman budaya dan kejayaan NKRI dari masa lalu hingga kini.

Berikan Komentar