Ke’te Kesu’, Desa Tradisional Kuno di Jantung Dataran Tinggi Toraja

Sumber: Travelingyuk.com

Ke’te Kesu ‘adalah desa tradisional kuno yang tersembunyi di daerah pegunungan Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Ke’te Kesu terletak di tengah hamparan sawah yang luas, dan merupakan desa tertua di distrik Sanggalangi. Desa ini berusia lebih dari 400 tahun, dan dikatakan tidak berubah sama sekali dalam 400 tahun terakhir. Ke’te Kesu ‘berfungsi sebagai semacam museum hidup, di mana seseorang dapat merasakan langsung budaya dan tradisi masyarakat Toraja kuno.

Kete Kesu mungkin paling dikenal karena daya tariknya terhadap budaya asli Toraja terkait kematian, seperti yang ditunjukkan melalui upacara pemakaman mewah mereka, menggantung kuburan dan situs pemakaman dekoratif. Ke’tu Kesu ‘dikatakan memiliki budaya megalitik yang paling terpelihara dengan baik dan tradisi yang merayakan kematian di seluruh Toraja.

Kete Kesu yang tak lekang waktu ini adalah rumah bagi sekitar 20 keluarga. Kete Kesu ini terdiri dari delapan “Tongkonan”, diatur dalam baris saling berhadapan, lengkap dengan lumbung padi yang terhubung. Dinding Tongkonan dihiasi dengan ukiran dan tanduk kerbau yang indah, yang berfungsi sebagai tanda status pemilik rumah. Tongkonan adalah rumah tradisional orang-orang Toraja, dibedakan dengan atap berbentuk perahu yang besar. Pembangunan Tongkonan adalah tugas yang melelahkan, dan biasanya membutuhkan bantuan semua anggota keluarga. Di Masyarakat Toraja asli, hanya orang-orang dari darah bangsawan yang diberi hak untuk membangun Tongkonan, sementara orang-orang biasa tinggal di rumah yang lebih kecil, dan sederhana.

Tidak jauh di belakang Tongkonan, ada sebuah lokasi jalanan melewati sawah, menandai jalan menuju bukit menakutkan yaitu Bukit Buntu Ke’su. Bukit Buntu Ke’su adalah situs pemakaman kuno, diperkirakan berusia lebih dari 700 tahun. Di atas bukit yang berbatu itu penuh dengan berserakan tengkorak dan tulang manusia, beberapa di antaranya menumpuk tinggi ke dalam bejana besar berbentuk kano. Wajah tebing dilubangi dengan gua, yang merupakan ruang bawah tanah kuno. Gua-gua itu diukir oleh para ahli keterampilan dari suku mereka, dan perlu waktu berbulan-bulan untuk membuatnya.

Menurut tradisi, orang-orang dari status mulia dimakamkan di lubang yang lebih tinggi, sementara rakyat jelata “beristirahat” di kaki bukit. Orang Toraja percaya bahwa yang lebih tinggi jenazah mereka dimakamkan, semakin mudah jalan menuju surga.

Berikan Komentar