Yang Membuat Hati Basah Saat ke Cagar Budaya

Kapan terakhir Anda berkunjung ke situs atau kawasan cagar budaya?

Tidak banyak orang yang menjadikan cagar budaya sebagai destinasi wisata. Atraksi dan pemandangan alam umumnya masih lebih menarik hati, dan barangkali hanya pelajar yang sedang study tour yang kerap bersemangat untuk berwisata cagar budaya.

Saya pernah terlibat dalam tim konsultan perencanaan wisata di Wakatobi. Saat itu pemerintah daerah setempat sadar bahwa sektor wisata Wakatobi tidak boleh hanya mengandalkan pemandangan bawah laut. Kita tahu, Wakatobi terkenal sebagai surganya para penyelam. Namun, pendapatan dari wisata bawah laut dirasa belum terlalu memuaskan. Wilayah darat Pulau Wakatobi belum membuat wisatawan tergoda. Wisatawan tidak punya pilihan lain untuk menikmati kedahsyatan daratan Wakatobi. Maka tim konsultan pun dilibatkan untuk melakukan perencanaan wisata non-bahari.

Saat itu saya mengunjungi situs peninggalan Benteng Liya di Pulau Wangi-wangi. Ternyata, luar biasa. Situs ini pun langsung masuk dalam perencanaan wisata yang kami susun.

Sedikit cerita, Benteng Liya adalah peninggalan Kesultanan Buton yang pernah menguasai Wakatobi. Situs Benteng ini adalah saksi bisu perjuangan rakyat Wakatobi dalam mengusir penjajah. Kondisi benteng sekarang memang sudah tak seperti pada masa kejayaan Sultan Buton, tetapi jejak-jejaknya masih bertahan. Selama ini pemerintah masih sangat perhatian terhadap situs benteng ini. Di dalam kawasan benteng juga terdapat Masjid Tua Liya yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Apa yang membuat kita sebaiknya menyukai berkunjung ke cagar budaya? Yang saya pelajari setelah menyusuri Benteng Liya adalah sebuah petualangan ilmu. Di atas reruntuhan benteng yang megah pada masanya, kita memperoleh pengetahuan baru, yang menembus ruang dan waktu. Beberapa orang mungkin merasa cukup ilmu hanya dengan membaca beberapa artikel tentang benteng atau cagar budaya pada umumnya, tetapi percayalah, cita rasa pengetahuannya tidaklah sama dengan apabila kita berkunjung langsung ke lokasi. Petualangan ilmunya sungguh berbeda. Di lokasi, aroma masa lalu masih dapat terasa.

Kami pun melakukan perencanaan wisata dengan menggelar focus group discussion (FGD) bersama warga lokal, pemerintah, swasta, dan seluruh pihak terkait. Saya salut kepada orang-orang Wakatobi yang masih sangat peduli dan perhatian terhadap cagar budaya miliknya. Mereka sadar bahwa cagar budaya adalah warisan para leluhur dan harus diwariskan pula kepada generasi berikutnya. Cagar budaya adalah identitas, dan sekaligus mata air ilmu pengetahuan.

**

Saya berkunjung ke Taman Prasejarah Sumpang Bita di Pangkep beberapa bulan yang lalu. Berbeda saat ke Wakatobi, urusan ke Sumpang Bita murni wisata. Saya menemani seorang kenalan dari Papua, PNS di Jakarta, yang berkunjung ke Makassar.

Taman Prasejarah Sumpang Bita, Pangkep (Dok.Penulis)

Saat kami datang, kawasan ini sepi sekali. Hanya ada dua tiga pengunjung dan beberapa petugas kebersihan yang sedang bekerja. Kata petugas, kawasan ini biasanya ramai oleh pelajar dan mahasiswa yang study tour dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan⎯ Ya, seperti yang saya katakan di awal tulisan ini. Namun, kawasan Taman Prasejarah ini unik. Lahannya luas dan sangat indah. Sekilas terlihat hanya seperti suatu taman wisata biasa yang menjual pemandangan lanskap alami. Padahal, di balik keindahan bukit-bukit karst yang mengelilingi taman kawasan, tersimpan gua-gua bersejarah.

Di dalam gua-gua tersebut terdapat lukisan tangan manusia berusia ribuan tahun yang lalu. Lukisan itu melekat di dinding gua, berupa gambar jejak tangan, gambar hewan dan perkakas. Peninggalan nenek moyang tersebut bukti bahwa kawasan yang sepi dan pedalaman ini dulunya adalah pusat peradaban manusia. Apabila Anda berkunjung ke sini, Anda akan merasa berada di suatu lorong waktu. Anda akan terlempar ke masa lalu dan mendapati bagaimana pendahulu kita telah melalui hidup sedemikian rupa. Anda boleh bangga dengan teknologi mutakhir manusia, tetapi tengoklah, manusia ribuan tahun lalu justru dapat hidup dengan lebih arif dan bijaksana.

Perjalanan lorong waktu di cagar budaya seperti ini membuat hati kita basah, bagai telah melalui suatu perjalanan spiritual. Anda bisa membayangkan bagaimana Tuhan mempergilirkan peradaban manusia. Anda mungkin jaya saat ini, tetapi mungkin juga akan hancur pada masa akan datang. Begitu pula sebaliknya.

Dan Anda tahu, bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa kawasan Taman Prasejarah ini dulunya adalah tepi pantai. Itulah sebabnya peradaban manusia tumbuh di sini. Sekarang, kawasan ini adalah perbukitan karst dan garis pantai sangat jauh dari sini. Subhanallah. Maha Kuasa Tuhan. Unsur-unsur di alam ini ternyata bergerak untuk saling menyeimbangkan diri. Ada wilayah yang tenggelam menjadi laut, ada wilayah yang timbul menjadi daratan berbukit.

Hal-hal seperti ini membuat saya kian jatuh cinta mengunjungi cagar budaya.

Kita harus mengapresiasi pemerintah yang telah berusaha keras melindungi cagar budaya Taman Prasejarah Sumpang Bita. Pemerintah menata kawasan taman agar menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Dengan demikian, Taman Prasejarah pun mendapat pemasukan tambahan untuk menggaji para petugas.

Cagar budaya lain yang pernah saya kunjungi adalah Taman Karst Leang-Leang di Maros, Benteng Rotterdam Makassar, Nekara Perunggu Selayar, Benteng Vredeburg Yogyakarta, Situs Megalitik Toraja, dan lain sebagainya.

Kalau boleh saya simpulkan, berikut manfaat berkunjung ke situs cagar budaya yang saya rasakan:

  1. Petualangan ilmu pengetahuan. Wawasan mengenai sejarah dan budaya akan bertambah bila berkunjung ke situs cagar budaya.
  2. Perjalanan spiritual. Kita bisa merasakan keagungan Tuhan dalam suatu cagar budaya.
  3. Kebanggaan atas negara dan daerah. Kita bisa merasakan kejayaan masa lalu suatu negara dan daerah atas peninggalan-peninggalan di cagar budaya.
  4. Kepahlawanan dan nasionalisme. Beberapa cagar budaya merekam jejak perjuangan para pahlawan sehingga kita dapat menyerap semangatnya.

Mengingat manfaat dari suatu cagar budaya, maka tugas kita sebagai warga negara yang baik adalah menjaganya. Bagaimana kita menjaganya? Minimal kita tidak melakukan pengrusakan terhadap cagar budaya, dan turut mengawasi apabila ada pihak yang ingin melakukan pengrusakan. Sewaktu ke Taman Leang-Leang di Maros, saya melihat banyak coret-coretan di batu taman dan bukit karst. Rupanya ada saja orang yang suka menulis nama mereka dan pasangannya dengan keyakinan bahwa cintanya akan kekal seperti lukisan tangan manusia prasejarah di dinding gua. Tolong, tindakan ini sangat merusak dan mengotori cagar budaya. Mari kita menjaga warisan budaya kita. Anak cucu kita pun punya hak untuk menikmati warisan ini pada masa-masa akan datang.

Terakhir, mulai sekarang, yuk mari memulai mencintai cagar budaya Indonesia dengan menjadikannya sebagai tujuan wisata.

Infografis Cagar Budaya (bahan gambar diolah dari freepik.com)

**

Punya ide untuk menjaga Cagar Budaya? Yuk ikut kompetisi ‘Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah’ berikut ini:

One Reply to “Yang Membuat Hati Basah Saat ke Cagar Budaya”

  1. Cagar budaya sangat penting untuk dijaga dan diperhatikan. Pasalnya warisan budaya seperti ini tidak bisa diperbaharui, dan merupakan aset yang bersejarah.

Berikan Komentar