Hadirnya Kereta Api Kami

Sewaktu kuliah di Jogja, saya biasa menggunakan kereta api untuk bepergian ke luar kota. Saya menikmati betul bagaimana rasanya naik kereta api. Menyenangkan sekali bepergian lintas kota dan provinsi dengan waktu cepat dan hemat menggunakan moda transportasi satu ini. Satu pulau Jawa sudah terhubung dengan rel kereta. Dari Kota Jogja, kita bisa ke ujung Barat atau ke ujung Timur Jawa dengan kereta. Saya iri dengan teman-teman Jawa yang telah merasakan kemudahan itu sedari dulu.

Dulu, waktu kecil, lagu “Naik kereta api tut, tut, tut” hanya ada di dalam khayalan saya, kami, anak-anak daerah di Sulawesi Selatan. Kami belum pernah merasakan, bahkan melihat langsung, sesuatu yang disebut kereta api itu di daerah kami. Jika ingin bepergian lintas kota dan provinsi, kami hanya bisa menggunakan kendaraan roda empat, dengan rentang waktu yang cukup lama, dan tentu saja perjalanan yang tidak cukup nyaman. Rasanya sangat jarang orang-orang daerah kami yang rutin melakukan perjalanan lintas provinsi: Sulawesi Selatan-Barat-Tengah-Tenggara-Gorontalo-dan Sulawesi Utara. Berbeda dengan teman-teman saya di Jawa yang sudah biasa bepergian lintas Jawa: Yogya-Jawa Tengah-Jawa Barat dan lainnya.

Saat saya wisuda, ibu datang ke Jogja. Itu adalah saat pertama kali ibu menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Kalian tahu, apa yang sangat ingin ibu coba? Ternyata ibu sangat ingin naik kereta! Separuh abad ibu hidup di Pinrang, Sulawesi Selatan, belum pernah sekali pun merasakan naik kereta. Saya tahu rasanya, dan saya tentu saja dengan senang hati menemani ibu naik kereta. Waktu itu saya mengajaknya ke Solo. Naik kereta dari Jogja ke Solo memang hanya singkat, tetapi sudah cukup berkesan bagi ibu. Akhirnya ibu juga singgah ke Stasiun Balapan yang selama ini hanya ia dengar lewat lagu.

Stasiun Lempuyangan Jogja (Dok. Pribadi)

**

Alhamdulillah, sekarang, Pulau Sulawesi sudah bisa punya kereta. Tahun 2017 lalu, telah dilakukan uji coba penggunaan rel kereta api yang berada di Barru, Sulawesi Selatan. Suasana haru meliputi seremoni itu. Bagaimana tidak? Puluhan tahun merdeka, rakyat di Sulawesi baru bisa melihat langsung kereta api di daerahnya. (Di zaman penjajahan sebenarnya pernah ada kereta api, tetapi rutenya sangat pendek; hanya menghubungkan Makassar-Takalar. Jarang digunakan oleh rakyat. Rel kereta api ini hanya bertahan beberapa tahun: 1922-1930)

Secara keilmuan, karena latar pendidikan saya adalah perencanaan wilayah dan kota, saya mengapresiasi usaha pemerintah menghadirkan kereta api di Sulawesi. Kereta api sudah pasti akan meningkatkan konektivitas wilayah di Sulawesi. Dengan meningkatnya konektivitas, ekonomi wilayah akan bergerak lebih maju. Mobilitas penduduk dan barang pun akan semakin meningkat. Sebagai misal, dari Pinrang ke Makassar, selama ini kita menghabiskan waktu empat jam dengan menggunakan mobil. Namun, nanti, dengan kereta api, perjalanan Pinrang ke Makassar hanya akan menghabiskan waktu kurang dari dua jam.

Proyek kereta api di Sulawesi ini belum selesai, dan kita berharap seluruh prosesnya bisa berjalan dengan lancar. Per November 2019, pembangunan tahap 1 telah berhasil mencapai 44 kilometer. Pemerintah ingin mempercepat penyelesaian seluruh rute kereta api tahap 1, tetapi sedikit menemui kendala pada pembebasan lahan. Sekali lagi, kita hanya berharap seluruh prosesnya bisa berjalan dengan lancar.

Saya berkeyakinan bila seluruh rute kereta api lintas Sulawesi selesai, wilayah-wilayah pertanian/perkebunan akan semakin berkembang. Hasil-hasil pertanian/perkebunan akan lebih cepat terdistribusi. Jangkauan pasarnya pun akan semakin lebar. Durian di Palopo, Sulawesi Selatan, nanti akan mudah dipasarkan di Manado, atau Luwuk, misalnya. Dan seterusnya.

Begitu pun dengan sektor pariwisata. Banyak orang di Sulawesi Selatan yang  sebenarnya ingin berlibur ke Manado, tetapi terkendala dengan transportasi. Naik pesawat tentu relatif mahal. Naik mobil atau bus memakan waktu berhari-hari. Dengan kereta api, semua akan lebih mudah dan cepat. Kehadiran kereta api akan membuat pariwisata berkembang. Minimal masyarakat di Sulawesi akan saling mengunjungi dan berwisata di daerah masing-masing. Orang Makassar akan mudah berwisata ke Manado. Orang Manado akan mudah berwisata ke Mamuju. Dan seterusnya.

**

Harapan saya, semoga Kementerian Perhubungan mengawal proyek kereta api Sulawesi ini sampai benar-benar selesai. Proyek kereta api Sulawesi adalah pencapaian terbesar Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir yang dirasakan masyarakat Sulawesi. Semoga semuanya berjalan lancar, termasuk soal pembebasan lahan agar saling menguntungkan. Bagaimana pun, kereta api ini bukan untuk kalangan tertentu saja, melainkan untuk semua. Bahkan, boleh dibilang, kereta api adalah moda transportasi publik yang paling merakyat.

Terima kasih, Kemenhub.

Infografis Perjalanan Pembangunan Rel Kereta Api Baru di Sulsel (Dok.Pribadi)

4 Replies to “Hadirnya Kereta Api Kami

  1. aku pertama kali naik kereta api itu tahun 2014, waktu itu ketika kerja praktek di Malang. Dan itu benar-benar aku baru pertamakali naik kereta api. Sekarang lebih suka kereta api daripada bus

  2. Alhamdulillah kalau gitu. Semoga membuat ekonomi Sulawesi semakin berkembang.

    Oea…. Selama hidup, saya ikut kereta api cuma dua kali. Yang kedua, baru2 ini. Asyik ternyata.

Berikan Komentar