Ziarah Cinta Datu Museng dan Maipa Deapati di Tanah Makassar

Film Datu Museng dan Maipa Deapati

Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati untuk pertama kalinya masuk ke layar lebar bioskop tanah air. Kedua tokoh ini sebenarnya sudah hampir terlupakan. Namun, lewat media film, nama mereka kini kembali akrab di tengah masyarakat, terutama generasi muda Makassar.

Cerita tentang dua sejoli ini awalnya disebarkan lewat tradisi Makassar yang dikenal dengan sinrilikSinrilik adalah bentuk kesenian lisan yang diiringi oleh musik-musik tradisional. Kisah-kisah dibawakan oleh pemain sinrilik dengan berirama, semacam puisi atau cerita pendek yang dilagukan. Saat ini pementasan sinrilik sudah tidak sering dilakukan.

Ada banyak kisah yang diwarisi oleh para pemain sinrilik. Namun, yang akhirnya banyak dikenang adalah kisah Datu Museng dan Maipa Deapati ini. Salah satu alasannya karena kisah mereka dibumbui oleh asmara. Bahkan, kisah cintanya dianggap tak kalah hebat dari Romeo dan Juliet yang amat terkenal sedunia.

Kisah Datu Museng

Diyakini bahwa kisah Datu Museng terinspirasi dari seorang utusan Sumbawa bernama Datu Busing. Pada tahun 1764, Datu Busing ke Makassar bersama dua utusan raja Sumbawa yang lain untuk bertemu dengan Gubernur VOC. Mereka ingin agar Gubernur VOC di Makassar tidak melengserkan raja mereka di Sumbawa. Saat itu penjajah Belanda sudah menaklukkan Kerajaan Gowa Makassar. Sementara Sumbawa adalah salah satu kerajaan yang bernaung di Kerajaan Gowa Makassar.

Misi Datu Busing gagal. Raja Sumbawa justru dilengserkan. Bersamaan dengan itu, para utusan raja ditangkap. Namun, Datu Busing enggan menyerah. Ia justru melakukan aksi perlawanan. Pemberontakan pasca Gowa-Makassar takluk akhirnya kembali terjadi.

Namun, sayang, Datu Busing berhasil ditaklukkan Belanda. Ia pun mati dibunuh.

Nama Datu Busing kemudian harum di tengah masyarakat. Seiring waktu, oleh lidah orang Makassar, diyakini bahwa nama Busing berubah menjadi Museng. Kisah kepahlawanannya pun diabadikan oleh para pemain sinrilik. Kisahnya sangat melekat begitu dikaitkan dengan Maipa Deapati dan bumbu-bumbu roman lainnya.

Versi lain menyebutkan bahwa Datu Museng adalah tokoh Makassar yang pertama kali mempopulerkan sinrilik. Ia bernama asli I Karaeng Mallarangang.

Dari sinrilik, kisah ini kemudian diabadikan lagi lewat buku atau novel oleh beberapa penulis, teater, dan akhirnya menjadi film layar lebar.

Berziarah di Makassar

Nah, jika kalian ingin mengenal lebih dekat dengan dua tokoh legenda ini, tak ada salahnya jika berkunjung ke Jalan Datu Museng dan Jalan Maipa Deapati di Makassar, tak jauh dari Pantai Losari. Nama mereka memang sudah diabadikan sebagai nama jalan di Kota Makassar. Hal ini menandakan bahwa keduanya adalah tokoh yang cukup berarti bagi masyarakat Kota Makassar.

Jalan Datu Museng saat ini dikenal sebagai kawasan kuliner. Namun, di antara beberapa restoran, ada satu tempat yang wajib kalian tahu. Apa itu? Kuburan. Inilah kuburan Datu Museng dan Maipa Deapati. Makam mereka persis berdampingan, yang menandakan cinta yang abadi, sehidup semati.

Makam Datu Museng dan Maipa Deapat
Makam Datu Museng dan Maipa Deapati (Foto Tribun-Timur.com)

Makam ini sering diziarahi oleh pelajar, mahasiswa, akademisi, sampai Sultan Sumbawa. Ada seorang juru kunci makam yang banyak tahu tentang kisah Datu Museng. Kalian bisa mengenal Datu Museng dan Maipa Deapati lewat juru kunci makam ini.

Selain itu, kini patung Datu Museng dan Maipa Deapati berdiri kokoh di anjungan Pantai Losari. Kalian akan bisa membayangkan wajah mereka lewat patung-patung setengah badan itu. Kisah cinta mereka turut mewarnai romantisnya Pantai Losari di kala senja.

 

Berikan Komentar