Mengenal Masakan dan Pakaian Tradisional dari Makassar

Coto Makassar merupakan makanan khas paling populer dan legendaris dari Makassar. Kuliner Makassar sebagai perpaduan antara agraris dan maritim. Di pantai barat seperti Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Sidrap dan pesisir timur Bone sebagai daerah pesisir secara langsung berbatasan dengan areal persawahan. Daerah pertanian di Bugis Makassar cukup luas seperti di wilayah Maros, Pangkep, dan Sidrap. Padi dan tanaman lain seperti pisang berlimpah, dan hampir semua hidangan, seperti kue Bugis Makassar, terbuat dari beras dan pisang mayor banyak terdapat disana. Beras menempati strata sosial tertinggi dalam makanan.

Wilayah pesisir Sulawesi Selatan juga menjadi penghasil ikan penting, tambak yang tersebar di pantai barat dengan hasil Bolu (bandeng), Udang, Sunu (Kerapu) dan Kepiting. Tradisi memancing di pesisir dan laut lepas, dikembangkan dengan baik, antara lain Tuna ditangkap.

Pola agraria juga ditemukan pada langkah kakinya di piring Bugis Makassar dan mandar yang terbuat dari daging sapi atau contoh utama kerbau adalah Coto, Konro, Sopsaudara, dan Pallubasa. Karena dekat pantai, tangkapan ikan yang melimpah berarti bahwa orang makan ikan sepanjang waktu. Jika orang makan nasi berlauk Ikan Jawa, Sulawesi Selatan ber ikan orang makan nasi sebagai lauk. Beras selalu merupakan bagian kecil dari ikan. Di Sulawesi Selatan, makanan tradisional beragam, mulai dari sup, panggang, hingga kue tradisional.

Pakaian Tradisional Makassar

Baju bodo adalah kostum tradisional wanita Bugis Makassar, Sulawesi, Indonesia. Baju bodo persegi panjang, biasanya lengan pendek, yaitu setengah di atas siku. Baju bodo juga diakui sebagai salah satu mode tertua di dunia. Menurut adat Bugis, setiap warna pakaian yang dikenakan oleh wanita bodo Bugis menunjukkan usia atau martabat pemakainya. Busana sering digunakan untuk upacara-upacara seperti upacara pernikahan. Tapi sekarang, baju bodo mulai direvitalisasi melalui acara lain seperti kompetisi tari atau menyambut tamu.

Filsafat Orang Makassar

Budaya Siri ‘Na Pacce adalah salah satu filosofi budaya Masyarakat Bugis-Makassar yang harus dijunjung tinggi. Bagi masyarakat Bugis-Makassar, siri ‘mengajarkan moralitas dalam bentuk nasihat kesusilaan, pelarangan, hak dan kewajiban yang mendominasi tindakan manusia untuk melestarikan dan membela diri dan kehormatannya.

Siri ‘adalah rasa malu yang terurai dalam dimensi martabat manusia, siri’ adalah sesuatu yang ‘tabu’ bagi orang-orang Bugis-Makassar dalam berinteraksi dengan orang lain. Sementara itu, pacce mengajarkan solidaritas dan kepedulian sosial secara tidak egois dan ini adalah salah satu konsep yang membuat orang Bugis-Makassar mampu bertahan dan dihormati diperantauan, pasrah dengan welas asih dan merasakan beban dan penderitaan orang lain.

Banner: panrita.news

Berikan Komentar