Mengenal Kisah Heroik Sultan Hasanuddin dari Kesultanan Gowa

 

Sumber: urusandunia.com

Sultan Hasanuddin (Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana; 12 Januari 1631 – 12 Juni 1670) adalah Penguasa ke-16 Kesultanan Gowa dari 1653 hingga 1669. Sultan Hasanuddin dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 6 November 1973.

Masa muda Sultan Hasanuddin

Sultan Hassanuddin lahir di Makassar, Kerajaan Gowa (yang sekarang menjadi bagian dari Sulawesi Selatan) dengan nama I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Beliau adalah pangeran kedua dari Raja Gowa ke 15, Sultan Malikussaid. Saat naik tahta, Hassanudin mengganti namanya menjadi Sultan Muhammad Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana.

 

Suksesi dan Perang Antara Kesultanan Gowa dengan Belanda

Setelah naik ke tahta Gowa, Hasanuddin dihadapkan pada situasi yang bergejolak ketika Belanda menjajah Hindia bagian Timur. Selama periode ini, Kerajaan Gowa adalah satu-satunya kerajaan besar Indonesia timur yang belum dijajah oleh Belanda. Pada 1666, di bawah kepemimpinan Kapten Cornelis Speelman, VOC (Verenlgde Oostindische Compagnie | United Eastindies Company) berusaha merebut setiap kerajaan Indonesia timur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah, meskipun tidak dapat menjajah Gowa.

Untuk melawan upaya perluasan wilayah jajahan Belanda, Hasanuddin berusaha mengumpulkan setiap kekuatan militer kerajaan untuk menyerang Perusahaan Hindia Belanda secara kolektif.

Konflik pertama antara Sultan Hasanuddin dan Belanda adalah saat Belanda memperjuangkan monopoli rempah-rempah perusahaan di Ambon; dan akhirnya meningkat menjadi blokade pelabuhan Makassar oleh armada VOC antara 1654-1655.

Beberapa pertempuran Belanda dengan Raja Gowa Sultan Hasanuddin dan pasukannya, membuat Kerajaan Gowa tidak memiliki pilihan lain untuk menyetujui perdamaian dengan Belanda di bawah ketentuan perjanjian Bugaya pada 2 Februari 1656. Namun, karena perjanjian itu bagian dari agenda Belanda untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah, konflik terjadi kembali. Disisi lain, Sultan Hasannudin tidak senang bahwa perjanjian itu melarang dia mengirim armada dagang ke Maluku tanpa izin perusahaan.

Konflik yang terus berkepanjangan, memaksa Belanda mencari bantuan militer dari Batavia, menghasilkan perang berdarah antara Belanda dan Gowa. Perang berlanjut sampai pasukan Belanda berhasil menaklukkan benteng terakhir Gowa, Benteng Sombaupu, pada 12 Juni 1669. Sultan Hassanudin mundur dan turun tahta sebagai Raja Gowa. Beliau meninggal setahun kemudian, pada usia 39 pada 12 Juni 1670, dan dimakamkan di Katangka, Makassar.

Berikan Komentar