Sejarah Masuknya Agama Islam di Makassar dan Tinjauan dari Sisi Budaya

Sejarah Masuknya Agama Islam di Makassar

Orang Makassar hampir semuanya Muslim, tetapi beberapa kepercayaan pra-Islam tradisional masih berpengaruh, terutama di daerah-daerah terpencil. Islam mulai secara resmi diterima ke dalam struktur Kerajaan Gowa sejak 1605, ditandai dengan kedatangan tiga sarjana dari Koto Tangah, Minangkabau. Salah satu dari tiga sarjana Minangkabau adalah Khatib Abdul Makmur Tunggal yang memegang Dato’ri Bandang. Ahmad Hidayat dalam artikelnya berjudul “Sejarah Islam Hingga Nusantara” kata Dato’ri Bandang adalah para ulama yang menyebarkan Islam di wilayah Kerajaan Gowa.

Sementara dua rekan lainnya, masing-masing menyebarkan Islam di wilayah tersebut dan di Kerajaan Luwu Bulukumba. Dakwah yang dilakukan oleh Dato’ri Bandang tidak hanya menyentuh lapisan bawah masyarakat, tetapi juga pedagang dan bangsawan Gowa. Bahkan, selama Dato’ri Bandang menyebarkan ajaran Islam di sana, salah satu penguasa Kerajaan Gowa, Raja Gowa-14, I Manga’rangi Daeng Manrabia dengan gelar Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna memeluk Islam.

Sebelumnya, Raja Gowa, yang juga menjabat sebagai Raja Tallo, I Malingkaang Daeng Nyonri atau Karaeng Katangka, pertama kali memeluk Islam. Dia kemudian mendapat nama Islam Sultan Abdullah al-Islam Awwal. Sejak itu, Kerajaan Gowa yang berada di bagian selatan Sulawesi Selatan menjadi pusat penyebaran Islam sejak Islam berfungsi sebagai agama resmi Kerajaan Gowa.

Budaya

Dari aspek ontologi (suatu bentuk) kebudayaan, budaya Makassar yang dikenal dengan nama siri ‘na pacce memiliki hubungan yang sangat kuat dengan pandangan Islam dalam hal spiritualitas, dimana kekuatan jiwa dapat teraktualkan melalui penaklukkan jiwa atas tubuh.

Budaya inti siri’n pacce mencakup semua aspek kehidupan masyarakat Bugis-Makassar, karena siri’n pacce merupakan identitas Bugis-Makassar. Siri ‘Masiri’ adalah cara hidup yang berniat mempertahankan, meningkatkan atau mencapai prestasi yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras dengan semua sarana yang ada.

Dengan filosofi dan ideologi siri’at, keterikatan antara orang-orang dan solidaritas menjadi lebih kuat, baik dengan sesama suku atau dengan suku-suku lain. Konsep seri ‘na pacce tidak hanya dianut oleh dua suku ini (Bugis dan Makassar), tetapi juga dianut oleh suku-suku lain yang mendiami daratan Sulawesi seperti suku Mandar dan Tator, hanya kosakata dan penyebutan mereka berbeda, tetapi filosofi ideologi kemiripan yang dimilikii dalam berinteraksi dengan orang lain.

 

Banner: zonasiswa.com

Berikan Komentar