Pasar Bolu dan Makale, Wujud Integrasi Budaya dan Tradisi Masyarakat Tana Toraja

Sumber: pedomanwisata.com

Pasar Bolu dan Pasar Makale adalah dua pasar terbesar di TanaToraja, Sulawesi Selatan. Kedua pasar ini jelas mencerminkan budaya dan peradaban masyarakat Toraja dan masyarakat sekitarnya. Pada hari pasar, “jalanan” Bolu penuh dengan orang-orang lokal yang membeli dan menjual barang dagangan, serta wisatawan asing dan domestik yang datang untuk menyaksikan berbagai pertunjukan menarik di tempat itu.

Jika Kerbau adalah komoditas utama yang dijual di Bolu, padanannya di pasar Makale adalah babi. Pasar Makale berada di blok sekitar 50 x 20 meter, dan sering disebut sebagai “Pasar Babi.” Pasar dibagi menjadi tiga bagian yang berbeda: satu untuk babi hidup, satu lagi untuk babi dewasa hidup, dan satu lagi untuk daging babi .

Anak babi Toraja disimpan dalam karung beras, hanya dibuka untuk calon pembeli untuk mengintipnya sebelum membeli, sementara babi dewasa biasanya diikat ke pos bambu di ruang utama. Anak babi biasanya dibeli untuk dibesarkan dan dibesarkan. Harga jual untuk seekor babi mulai dari sekitar 500.000 – 750.000 untuk anak babi, sementara babi dewasa harganya antara 3 – 9 juta rupiah, meskipun beberapa jenis diantaranya dapat dijual seharga puluhan juta, jika berat mereka secara kebetulan menyaingi seekor kerbau. Berbeda dengan kerbau, babi hitam lebih mahal daripada albino atau babi tutul. Seperti pasar lain, Makale hanya buka satu kali dalam enam hari.

Meskipun mayoritas penduduk Toraja adalah orang Kristen, sebagian besar masih mengikuti ajaran Animisme, memberikan hewan peran yang sangat penting dalam budaya Toraja. Kerbau adalah persyaratan yang harus dipenuhi dalam upacara tradisional, terutama pemakaman, karena diyakini bahwa kerbau, ketika disembelih, bertindak sebagai kendaraan bagi roh almarhum untuk mencapai Nirwana.

Kerbau dan babi juga berfungsi sebagai simbol status pemiliknya. Semakin tinggi posisi keluarga yang akan mengadakan upacara, semakin banyak kerbau yang harus disembelih. Untuk keluarga kelas menengah, 8 ekor kerbau dan 50 babi adalah kewaiban yang harus dipenuhi ketika melakukan pemakaman tradisional. Untuk kaum bangsawan, sebanyak 25 – 100 ekor kerbau dapat disembelih.

Meskipun banyak hal telah berubah selama berabad-abad, beberapa hal tetap sama. Di Toraja, keberadaan pasar-pasar ini sangat terintegrasi dengan budaya dan tradisi mereka, dan hari pasar membentuk bagian dari warisan masyarakat Toraja yang tidak pernah dapat dipisahkan.

Berikan Komentar