Makassar Dalam Kenangan Aborigin

Abad ke-17 merupakan awal mula terjalinnya kerja sama yang sangat indah antara Pelaut Makassar dan suku asli Australia, Suku Aborigin. Kerja sama tersebut terjalin di suatu daerah yang bernama Arnhem Land, Northern Territory, Australia, yang di dalamnya dihuni oleh Suku Yolngu yang merupakan keturunan Aborigin.

Saat itu penduduk Makassar, khususnya Pelaut Makassar melakukan perjalanan untuk mencari teripang di pantai utara Northern Territory, Australia. Dan hasil tangkapannya akan dibawa ke Makassar untuk dijual ke pedagang China.

Kerja sama yang dilakukan antara Pelaut Makassar dan Suku Yolngu menggunakan sistem barter. Pelaut Makassar akan menukarkan barang bawaan mereka, seperti beras, tembakau, mutiara, logam, kain dan beberapa barang lainnya untuk mendapatkan akses mencari teripang. Sedangkan warga Yolngu akan mendapatkan barang-barang bawaan dari para Pelaut Makassar.

Kerja sama yang terjalin antara keduanya bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama, sekitar satu setengah abad, karena memang keduanya saling diuntungkan melalui kerjasama tersebut. Bahkan, tak jarang beberapa orang asli Yolngu menjadi pekerja untuk para Pelaut Makassar.

Kedatangan para Pelaut Makassar saat itu benar-benar memberikan dampak yang luar biasa bagi kehidupan Suku Yolngu–karena saat itulah taraf hidup mereka terangkat. Tak cukup sampai di situ, para Pelaut Makassar juga memberikan ilmu kepada warga Yolngu tentang bagaimana membuat senjata dari logam, yang sebelumnya tidak pernah diketahui oleh suku asli Australia tersebut.

w6-2

Suku Yolngu biasa memanggil para Pelaut Makassar saat itu dengan sebutan “Maccasan.” Dan karena saking lamanya Pelaut Makassar mencari teripang di sana, ada sekitar 300-500 kata dalam bahasa Yolngu yang terpengaruhi oleh bahasa Indonesia. Contohnya saja, Balanda dari kata Belanda yang mereka gunakan untuk menyebut orang berkulit putih. Kemudian Rupiya yang mereka gunakan untuk menyebut uang. Ada pula Jinapan yang berarti senapan. Jalatan yang berarti selatan, Bandira yang berarti bendera dan masih banyak lagi.

Sampai saat ini beberapa kata tersebut masih digunakan oleh suku Yolngu–meskipun tidak semuanya dan meskipun secara penyebutan terjadi perubahan. Warga Aborigin, khususnya Suku Yolngu, mungkin akan fasih berbicara Bahasa Indonesia andai saja pada abad ke-19 atau tahun 1906-an kerjasama antara keduanya tidak berakhir.

Pada tahun itu pemerintah Australia mewajibkan setiap pelaut untuk memiliki izin dan membayar semacam pajak jika hendak memancing atau memanen teripang di kawasan Australia. Semenjak itu pula tak ada lagi kapal dari Makassar yang datang ke Arnhem Land.

Banyak sumber yang menyebutkan setelah kejadian itu mayoritas warga Aborigin tidak memiliki gairah hidup. Penghidupan sehari-hari mereka yang diambil dari para Pelaut Makassar telah menghilang.

Meskipun demikian, kisah-kisah indah tentang kerja sama antara warga Aborigin, Suku Yolngu, dengan Pelaut Makassar selalu mereka ceritakan kepada anak cucunya. Mereka juga menyimpan dengan baik beberapa peninggalan Pelaut Makassar. Maka, tidaklah aneh apabila warga Makassar yang berkunjung ke daerah Suku Yolngu akan disambut dengan hangat dan ramah. Mereka, warga Aborigin, Suku Yolngu memang merindukan kedatangan orang-orang Makassar. Mereka ingin kerja sama antara daerahnya dengan Makassar, seperti zaman dahulu, dapat kembali terjalin.

Apalagi para Pelaut Makassar datang ke tanah mereka, murni ingin berdagang. Bukan untuk menjajah tanah mereka dan menguasai sumber dayanya. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh pelaut-pelaut dari negeri Barat yang ingin merampas tanah dan sumber daya daerahnya.

Berikan Komentar