Ramang: Maradona-nya Indonesia dari Sulsel

Nama aslinya adalah Andi Ramang, lahir di Barru, Sulawesi Selatan, 24 April 1924 silam. Namanya begitu populer di dunia sepakbola Indonesia dan juga dunia. Siapakah Ramang sebenarnya?

Ramang adalah pesepakbola profesional Indonesia sekitaran tahun 1950 – 1970an. Pria yang disebut sebagai Maradonanya Indonesia ini adalah putra asli Sulawesi Selatan. Karir sepakbolanya dimulai dari klub  bernama Persis (Persatuan Sepakbola Induk Sulawesi). Di klub tersebut, dirinya tampil bagus, hingga akhirnya pada tahun 1947 klub yang bernama Makassar Voetball Bond, yang kini bernama PSM Makassar, resmi memboyongnya. Bersama PSM Makassar, ia merasakan gelar juara di era perserikatan.

Tampil apik bersama PSM Makassar, membuat nama Ramang masuk dalam skuad tim nasional Indonesia di tahun 1952. Kisah akan kehebatannya dimulai pada tahun 1954 kala tim nasional Indonesia melakukan lawatan ke berbagai negara Asia, seperti Filipina, Hongkong, Muangthai dan Malaysia. Dari semua pertandingan yang dihelat, tim nasional Indonesia menyapu bersih semua laga dengan skor yang mencolok. Dua puluh lima gol menjadi bukti betapa perkasanya tim nasional Indonesia kala itu. Dan dari 25 gol tersebut, 19 di antaranya dicetak oleh Ramang.

Kemenangan tersebut terdengar oleh negara Yugoslavia, Uni Soviet, klub Stade de Reims dan klub Locomotive hingga akhirnya membuat mereka ingin beruji tanding dengan Ramang Cs.

Tak sampai di situ, di tahun 1956, di cabang sepakbola Olimpiade Melbourne, Indonesia berhasil menahan imbang negara kuat, Uni Soviet dengan skor 0-0. Saat pertandingan berlangsung, Ramang yang menjadi penyerang andalan Indonesia sempat membuat kerepotan lini pertahanan negara yang saat ini bernama Rusia tersebut. Bahkan ia hampir mencetak gol di menit 84 andai kaosnya tidak ditarik tim lawan. Sayangnya keberhasilan Indonesia tersebut tidak bisa berlanjut di partai berikutnya yang kebetulan kembali mempertemukan Indonesia dengan Uni Soviet. Di pertandingan itu Indonesia akhirnya dibuat tak berkutik dengan skor 4-0.

Nama Ramang sangatlah dikenal kala itu sebagai striker yang memiliki kecepatan tinggi disertai tendangan yang keras dan dapat menempatkan diri dengan baik, disertai insting gol yang luar biasa. Apalagi kemampuannya dalam tendangan salto yang kerap membuatnya mencetak gol. Sayangnya, pencapaian hebat itu harus terhenti di tahun 1960 karena Ramang terkena skorsing dari PSSI terkait kasus suap yang menimpanya.

Setelah bebas dari skorsing, ternyata permainan Ramang semakin menurun. Hingga akhirnya di tahun 1968 dalam usia 40 tahun, ia memutuskan pensiun. Selanjutnya ia melanjutkan karir ke dunia kepelatihan dengan menjadi pelatih Persipal Palu. Sukses membawa Persipal menjadi tim yang disegani di dunia sepakbola tanah air, ia dipercaya untuk melatih mantan klubnya PSM Makassar. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena dirinya tidak memiliki ijazah kepelatihan yang membuatnya didepak dari jabatan tersebut.

Di tahun 1987, sakit radang paru-paru yang ia derita selama enam tahun membuatnya meninggal dunia.

Untuk mengingat jasa-jasanya kepada negara Indonesia, terutama PSM Makassar, digunakanlah julukan Pasukan Ramang untuk klub PSM, serta pernah dibuatkan patung di lapangan Karebosi.

Berikan Komentar