Muslimah Cantik Makassar, Azure Azalea, Terbitkan Buku “Perjalanan Menemukan”

Buku Azure Azalea

Di kalangan pecinta aksara Makassar, nama Azure Azalea tidak asing lagi. Ia cukup populer di media sosial, terutama Twitter dan Instagram. Lewat akunnya @AzureAzalea , muslimah cantik ini kerap berbagi postingan quote-quote menarik dan disenangi banyak orang.

Tak hanya di media sosial, Azure Azalea cukup dikenal sebagai pembaca puisi yang sering mentas di panggung-panggung. Ia pun aktif di beberapa organisasi atau komunitas di Makassar, seperti Lembaga Studi Pemuda dan Pelajar (LSPP) Forstar, Malam Sureq, dan Forum Lingkar Pena (FLP).

Karya-karya muslimah cantik alumni Unhas ini telah terbit di beberapa media cetak maupun portal online. Selain itu, tulisan-tulisannya pernah tergabung dalam buku antologi bersama, yakni kumpulan cerita Menunggu Bulan (2013) bersama teman-teman FLP Universitas Hasanuddin, kumpulan puisi Benang Ingatan (2016) bersama sepuluh penyair muda Makassar, serta antologi sastra Surat Cinta untuk Makassar yang diluncurkan pada perayaan Makassar International Eight Festival and Forum 2016.

Azure Azalea
Azure Azalea di F8 Makassar

Pada awal tahun 2018 ini, Azure Azalea menerbitkan buku tunggal berjudul “Perjalanan Menemukan”. Buku ini merupakan kumpulan catatan kontemplatifnya dalam memandang hidup, cinta, dan rasa. Buku “Perjalanan Menemukan” merupakan bagian dari inisiatif @kepadahatiproject yang sedang hits di Instagram.

Berikut cuplikan buku “Perjalanan Menemukan”. Hati-hati terbawa perasaan.

Muslimah Cantik Makassar

“Kau tahu apa bagian yang paling menyedihkan dari cinta? Setelah melalui beraneka macam pengalaman dan rasa sakit—yang bahkan mungkin belum seberapa—kupikir bukan kehilangan, perpisahan, bukan ketidak berbalasan. Bagian paling sedih dari cinta yang jatuh ke hatiku adalah ketidakmampuanku mengatakannya. Ya, ketika aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengatakan, betapa aku mencintai seseorang.
Kau tahu apa bagian paling mengerikan dari rasa rindu? Aku yakin kini kau tahu. Benar, ketika kau tak mampu mengatakannya sama sekali, betapa dadamu nyaris meledak dan kepalamu sedikit lagi pecah. Kau tidak bisa mengatakan betapa kau rindu, bahkan ketika jarakmu tidak lebih dari selangkah, bahkan ketika kata-kata itu tinggal berbatas bibir. Kau bisa mengatakan apa pun, kecuali satu kata sederhana itu: rindu. Lantas tentu saja bagian paling tragis dari ketidakmampuanmu mengucap rindu adalah ketaksanggupanmu mengucap cinta. Yah, bukan karena kau tak mampu bicara, tetapi kau berada di simpang kepercayaan dan takdir yang belum tepat.
Seperti halnya kata cinta dan rindu, sabar itu juga hanya satu kata. Satu kata yang berat. Meski begitu, kali ini aku akan tetap mengatakannya—satu-satunya yang saat ini aku bisa; Mari bersabar!

Ada banyak kemungkinan dalam hidup. Ada lebih banyak kemungkinan dalam doa.”

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.