Simposium Bulan K3 Nasional di Makassar: Sinergi dalam Triple Helix

Memperingati Bulan K3 Nasional, Simposium Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional tahun 2018 untuk provinsi Sulawesi Selatan digelar 13 Februari 2018 lalu di Hotel Dalton Makassar. Mengusung tema “Academic-Business-Government (ABG) Triple Helix Collaboration Guna Peningkatan Budaya K3 Dalam Mendorong Terbentuknya Bangsa yang Berkarakter”, hadir dalam simposium tersebut narasumber dari berbagai kalangan di antaranya, Direktur Pembinaan Pengawasan Bidang K3 Kementrian Ketenagakerjaan RI, Kepala Sekertariat Dewan K3 Nasional, Kepala Balai Besar Pengembangan K3 Makassar, dan General Manager Health Safety & Emergency Response PT Valle Indonesia Tbk.

Keselamatan kerja adalah sebuah persepsi individu terhadap risiko, keadaan pikiran di mana pekerja dibuat waspada terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan di sepanjang waktu, suatu keadaan yang bebas dari resiko (Taylor et.al.,2004). Sedangkan, menurut World Health Organization (WHO), kesehatan kerja meliputi semua yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan dalam tempat kerja dan memiliki tujuan kuat dalam pencegahan langsung bahaya yang ada.

Sebagai komitmen global, kita tahu K3 menjadi penting selain untuk mengurangi kerugian akibat kecelakaan kerja oleh manajemen, lebih jauh pula untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan produktif.

Risiko atau bahaya di tempat kerja memang mulai diidentifikasi oleh para ahli  sejak suar revolusi industri dimulai dan menjadi bagian integral dalam kehidupan kita. Mekanisasi memberikan banyak keuntungan, tetapi diiringi pula dengan meningkatnya risiko, penyakit, dan cedera pada orang yang terpapar, begitu pula dalam penggunaan bahan-bahan kimia.

Berbagai upaya pencegahan risiko di tempat kerja dirintis dan dirumuskan satu per satu, meski kenyataannya membentuk kesadaran hingga budaya akan K3 ini adalah sebuah proses panjang. Bagaimanapun, penggalakkan K3 masih menjadi catatan krusial. Awal 2018 ini bahkan telah diwarnai sejumlah kasus kecelakaan kerja yang menonjol, sebutlah peristiwa rubuhnya crane di Pancoran, Jakarta Selatan, dan longsor di Cikampek, Banten.

Insiden-insiden yang belakang waktu kian kerap terjadi merupakan peringatan terhadap kondisi kerja tidak aman yang masih banyak terjadi dan dihadapi. Menurut perkiraan ILO terbaru, lebih dari 1,8 juta kematian akibat kerja terjadi setiap tahunnya di kawasan Asia dan Pasifik. Bahkan dua pertiga kematian akibat kerja di dunia terjadi di Asia. Di tingkat global, lebih dari 2,78 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Selain itu, terdapat sekitar 374 juta cedera dan penyakit akibat kerja yang tidak fatal setiap tahunnya, yang banyak mengakibatkan absensi kerja.

Menyadari betul tantangan keselamatan dan kesehatan kerja di zaman modern bagi Indonesia, terutama dalam menghadapi MEA di mana pintu dan ruang-ruang kerja kian lapang terbuka, Balai Besar Pengembangan K3 bekerjasama dengan berbagai pihak, menggelar simposium ini salah satunya membahas strategi sinergitas dalam konsep Triple Helix. Sinergi dan penyatuan tiga kalangan dalam rumusan ini terdiri dari akademisi, pengusaha, dan pemerintah dengan masing-masing peranannya yang dapat saling mendukung dalam peningkatan budaya K3.

Kepala Sekretariat DK3N, Ir. Amri AK, MM, pada kesempatan tersebut mendorong perusahaan untuk memperhatikan dan melaksanakan aspek K3 khususnya pembinaan tenaga kerja guna membentuk budaya K3 sekaligus sebagai cerminan karakter bangsa.

Pemaparan materi Ir. Amri AK, MM, Kepala Sekretariat DK3N

“K3 sebagai satu unsur dalam perlindungan tenaga kerja merupakan faktor penting untuk meningkatkan produksi dan produktivitas yang akan berpengaruh terhadap iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional,” imbuhnya.

Berikan Komentar